Profil Alumni : WISUDAWAN/TI TERBAIK PROGRAM MAGISTER EKONOMI SYARIAH

     Arif Rahmat, SE.,ME.  lahir di Bukittinggi, pada tanggal 14 februari 1994, merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Muzahardi dan Yurnita, berasal dari daerah lasi kecamatan canduang, dan sekarang sudah menetap di Parik Putuih, Nagari Ampang Gadang, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam. Arif lahir dari keluarga yang sederhana, kedua orang tuanya menempuh pendidikan hanya sampai tingkat sekolah dasar, namun ia beruntung mempunyai kedua orang tua yang selalu mendorong anak-anaknya untuk berpendidikan tinggi, dan alhamdulillah Arif dan kedua kakak laki-lakinya sudah menyelesaikan studi sampai pada tingkat pascasarjana.

     Arif mengenyam pendidikan formal sekolah dasar di SDN 13 Parik Putuih, setelah itu melanjutkan pendidikan pesantren selama 7 tahun di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Pasir, kecamatan Ampek Angkek. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bukittinggi pada 2013 dengan mengambil jurusan Ekonomi Islam, dengan alasan karena ekonomi islam adalah ilmu yang sangat mendasar dan penting untuk didalami karena berkaitan erat dengan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari, bekal ilmu keagamaan yang didapat selama di pesantren juga menjadi motif kuat baginya untuk lebih mendalami tentang bagaimana kaidah ekonomi yang diatur sesuai dengan koridor prinsip syariah.

     Semasa kuliah Arif  tidak hanya menyibukkan diri dalam aktifitas akademis saja, dia juga aktif terlibat di beberapa organisasi kampus mulai dari tingkat jurusan sampai pada tingkat Institut dan juga memproses diri di beberapa organisasi di luar kampus, alasannya aktif di beberapa organisasi karena ia menganggap bahwa organisasi merupakan sebuah wadah yang strategis dan sangat bermanfaat untuk pengembangan dirinya, di organisasi ia bisa belajar bagaimana cara memimpin serta dipimpin, melatih public speaking dan belajar memecahkan masalah (problem solving), selama aktif diorganisasi Arif tetap memprioritaskan perkuliahannya, karena baginya kesibukan organisasi tidak bisa dijadikan sebagai dalih untuk melalaikan kagiatan akademis yang merupakan tujuan awal dia masuk kampus, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memanajemen waktu sebaik mungkin sehingga kegiatan organisasi yang digeluti tidak mengganggu terhadap aktifitas akademis.

     Tahun 2016 merupakan masa penyelesaian studi baginya, intensitas perkuliahan secara tatap muka tidak lagi padat seperti semester sebelumnya, jadwal kuliah yang tidak begitu padat ia jadikan sebagai peluang untuk mengeksplorasi diri dalam dunia bisnis, ia mencoba untuk  mulai merambah ke dunia bisnis dengan berdagang, bersama salah seorang saudaranya Arif merintis sebuah usaha dagang grosir yang diberi nama ARIFTA COLLETION yang bertempat di pasar Aur Kuning Bukittinggi, kesibukan karena  mengurus usaha yang digeluti tidak menjadi hambatan dan alasan baginya untuk menyelesaikan studi sarjananya, dengan tepat waktu, pada tahun 2017 ia berhasil memperoleh gelar sarjana, menulis skripsi dengan judul “Etika Bisnis Pedagang Kaki Lima Pasar Aur Kunung Bukittinggi ditinjau dalam Perspektif Ekonomi Islam”, di bawah bimbingann  Dr. Miswardi.M.Hum dan Hj. Zulhelmi,SE, MM

     Setelah lulus sarjana, Arif berkeinginan besar untuk melanjutkan studinya, dengan alasan karena ingin menggali lebih dalam dan memperluas pemahaman tentang ekonomi islam, baik secara teoritris maupun praktis, keinginan yang besar untuk melanjutkan kuliahnya saat itu diiringi dengan munculnya rasa ragu, salah satu sebab munculnya keraguan karna persoalan finansial dan kesulitan membagi waktu antara kuliah dan kerja, namun karena dorongan dari keluarga dan stimulasi yang diberikan oleh para dosen serta keyakinan bahwa Allah SWT akan selalu membukakan jalan bagi orang yang menuntut ilmu, pada tahun 2017 beberapa bulan setelah memperoleh gelar sarjana dia memutuskan untuk melanjutkan studi pascasarjana di IAIN Bukittinggi, tidak dapat ia pungkiri, begitu banyak persoalan pelik yang dihadapi selama proses kuliah pascasarjana, salah satunya dipusingkan karena keharusan untuk membagi waktu antara kuliah dan bisnis yang ia geluti, namun kegigihan serta tekad yang kuat membuat dia mampu melewati masa-masa sulit itu, ia berhasil menyelesaikan studi pascasarjana pada Juli tahun 2020, dan tamat dengan mendapatkan dua predikat yaitu sebagai  Wisudawan Terbaik dan juga Penulisan Tesis Terbaik, ia menulis tesis dengan judul  “Pengaruh Hedonisme dan Religiusitas Terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa”, dibawah bimbingan  Dr. H Asyari, S.Ag, M.si dan  Dr. Hesi Eka Puteri, SE, M.Si.

     Selama lebih kurang tujuh tahun (S1 dan S2) menimba ilmu di IAIN BUKITTINGGI, Arif menghaturkan banyak terima kasih kepada seluruh elemen yang ada di kampus IAIN Bukittinggi, terkhusus kepada Bapak/Ibu dosen di lingkup Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, yang selama ini sudah begitu banyak memberikan kontribusi keilmuan serta pengalaman yang sangat bermanfaat baginya yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam menjalani setiap rentetan kehidupan, dan juga terima kasih kepada Bapak/Ibu staf/pegawai yang sudah mengakomodir kebutuhan administrasi selama perkuliahan.

     Arif menyadari bahwa masih begitu banyak target hidup yang belum ia capai, namun selalu berikhtiar dan berdoa adalah sebuah keharusan, ikhtiar dengan melakukan apa yang bisa dilakukan dan juga melakukan apa yang pada dasarnya sulit untuk dilakukan, karena dari hal-hal yang sulitlah kita bisa memetik banyak ikhtibar yang berguna sebagai bekal dalam menjalani kehidupan, bagaimana hidup kita kedepan memang kita tidak pernah tau, namun kita mesti selalu berusaha dan berdoa untuk bisa menjadi apa yang kita mau.

     Terakhir, selaku seorang senior dan seorang yang sedang berjuang, Arif berpesan kepada adik-adik juniornya, “kampus adalah tempat bagi kita untuk memersiapkan amunisi dalam menghadapi tantangan hidup ke depan, maka berbenar-benarlah agar bisa memaknai setiap perjuangan yang dilakukan, dalam hidup ini tidak ada yang instan, keharusan bagi kita yang mempuyai tujuan untuk selalu berjuang, karena tidak ada eskalator kesuksesan, kita mesti menaiki tangga yang terdapat kesulitan serta tantangan di setiap tingkatannya, jangan ada kata menyerah dan selalu yakin bahwa kita bisa melakukannya, dan disetiap proses pasti akan ada rintangan yang menghampiri, bila jatuh maka berdirilah dan terus pupuk semangat untuk berjuang”.(gb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *