KEGAMANGAN MENGGAPAI ASA DI TENGAH COVID-19

     Yoga Ardiansyah itulah nama sebagai hadiah pertama dan terindah yang diberikan oleh orangtuanya, Supardi dan Yani Suryani, terhadap anak pertamanya yang lahir di Pondok Kubang Bengkulu Tengah pada 06 Mei 2002 yang lalu. Sekarang Yoga, panggilannya sedang kuliah di Semester II, Program Studi Ekonomi Islam.

     Yoga adalah alumni SMAN 06 Kota Bengkulu, rela meninggalkan kampong halaman yang berjarak puluhan kilometer demi melanjutkan pendidikannya ke sekolah yang lebih baik, sebab Yoga selama M.Ts selalu menduduki peringkat yang pertama di kelasnya. Demi meringankan beban orang tuanya yang hanya sebagai buruh harian di kebun kelapa sawit, Yoga menjadi marbot masjid, memanfaatkan ilmu pengetahuan agama yang sudah didapat semasa di M.Ts. Kosan tak bayar, ada tip juga dari Jemaah. Di samping, sebagai ajang mencari pengalaman baru, dalam kehidupan, ungkap Yoga, menceritakan pengalaman hidup yang tak mungkin akan terlupakan olehnya..

     Di SMA 06 Bengkulu, Yoga tercatat sebagai siswa dengan berbagai prestasi yang pernah ditorehkannya. Di samping selalu memegang juara umum kelas di jurusan IPA, prestasi lain di antaranya, adalah :
1. Juara 1 Syarhil Quran se Kabupaten Bengkulu Tengah.
2. Juara 2 Iidato Bahasa Arab Sekabupaten Bengkulu Tengah
3. Juara Harapan 3 Ceramah se Provinsi Bengkulu
4. Juara POPKA se Kota Bengkulu
5. Juara O2SN se Kota Bengkulu
6. Dll

     Tamat dari SMA, ketika pemilihan kampus mana yang akan di masuki, hatinya tergerak untuk memilih IAIN Bukittinggi, inilah yang dinamakan takdir ungkap Yoga, sementara di Bengkulu sendiri ada dua buah IAIN, yakni di Kota Bengkulu dan Kota Curup. Dan yang penting kedua orang tuanya memberi izin dan doa restu. Ada keinginan untuk memperdalam ilmu agama yang masih tergantung di dapatkannya ketika masih di M.Ts. juga menambah pengalaman merantau, yang sudah dimulai ketika SMA dulu.

     Alhamdulillah pada semester 1, Yoga mendapatkan IP 3,92 dengan rincian nilai 11 matkul mendapat nilai A, hanya 1 matkul mendapat nilai B. Namun pada semester 2 ini ada masalah yang sangat mengganggu dan menurutnya , hal ini pasti akan sangat berimbas kepada IPK yakni Covid-19, kuliah tatap muka, digantikan dengan kuliah daring. Walaupun kuliah daring jalan keluar dari kondisi dan situasi yang ada sekarang . Menurut Yoga dampak negative kuliah daring ini,adalah kekencangan sinyal, bukanlah pemahaman tapi. Buktinya saya harus lari-lari, pindah dari suatu tempat ke tempat lain untuk memperoleh sinyal yang kuat, apalagi kalau diskusi. Hasil pemikiran yang sudah diuangkan melalui jari jemari, terlambat terkirim karena lambatnya sinyal, begitu juga sebaliknya. Sehingga menurut Yoga hal ini akan sangat berdampak dengan nilainya, karena pada perkuliahan semester 1 yang lalu, dia bisa langsung menyampaikan hasil pemikiran kepada Dosen dan Juga kepada forum ketika perkuliahan dan diskusi berlangsung. Ini salah satu modal yang dimiliki Yoga, kebiasaan berani menyampaikan pemikirannya. Tentu pemikiran yang didasarkan kepada kerajinannya membaca buku-buku referensi juga. Apa lagi di desanya sinyal susah, kalau lampu mati saya harus mengejar perkuliahan dengan cara mencari sinyal ke kota, walaupun di pinggir jalan, di jembatan, atau mencari tempat ketinggian untuk mendapat sinyal yang bagus. Menurut Yoga kuliah daring tidak efektif untuk menentukan nilai apalagi bagi mahasiwa yang mengandalkan keaktifan dan keberanian menyampaikan pendapat, karena sekarang hal itu di nomor dua, karena sinyallah yang paling penting. Saya berharap wabah penyakit ini segera berakhir sehingga kuliah tatap muka bisa dilakukan kembali. Ungkap Yoga penuh harapan. (gb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *